M. YUSUF PUTRA BINA MAJU
Siap berbagi cerita tentang dunia mahasiswa
efek daun
Monday, October 26, 2015
PEMERINTAH HARUS MAMPU MERUBAH PARADIGMA PEMBANGUNAN INDONESIA (Memperingati Satu Tahun Kepemimpinan Jokowi-JK)
Thursday, May 28, 2015
NEGERI INI BUKAN REPUBLIK PALSU
Akhir-akhir ini kita semua dikejutkan dengan berbagai pemberitaan di media massa terkait hal-hal yang palsu. Mulai dari jual beli ijazah atau gelar oleh perguruan tinggi odong-odong (katanya), praktek dokter kecantikan palsu, maraknya peredaran uang palsu dan bahkan tidak kalah hebohnya terkait dugaan beras plastik yang beredar dimasyarakat alias beras palsu.
Semuanya membuat masyarakat di republik ini khawatir dikarenakan ini semua seolah-olah mengindikasikan bahwa Indonesia saat ini sedang dalam keadaan serba palsu. Penulis sengaja mengambil judul "
NEGERI INI BUKAN REPUBLIK PALSU" pada dasarnya adalah untuk mensugestikan pada kita semua bahwa apa yang telah terjadi adalah hal yang sangat memprihatinkan terlebih image Indonesia di kancah Internasional dan patut untuk diperhatikan bersama. Padahal ini semua hanyalah perbuatan orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Ini bukan suatu pembenaran semata, namun inilah kebenaran yang sesungguhnya bahwa apa yang terjadi saat ini adalah akibat ulah mental palsu. Ya, benar mental palsu oknum yang tidak siap menghadapi kenyataan, mental palsu oknum yang haus akan kekayaan, yang tidak pernah memikirkan bahwa kebobrokan yang mereka lakukan berdampak besar terhadap kenyamanan masyarakat banyak di republik ini. Cukuplah permasalahan sosial, himpitan ekonomi, kemiskinan dan berbagai kesenjangan menjadi tantangan jangan ditambah lagi dengan permasalahan-permasalahan yang tidak penting. Kasihan bangsa ini yang setiap saatnya harus memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya dipikirkan. Cukuplah sejarah masa lalu memberi cerita pahit yang sulit untuk dilupakan . Saatnya kita bangkit dari keterpurukan menuju bangsa yang bermartabat.
Kembali pada topik pembicaraan, andai saja mereka-mereka yang berbuat tidak menggunakan mental palsu, maka sudah dapat dipastikan hal-hal di atas tidak akan pernah terjadi. Jadi dapat disimpulkan bahwa benar Republik ini bukanlah republik palsu, namun karena ulah mereka-mereka yang bermental palsulah mengindikasikan solah-olah ini bangsa palsu. Kewajiban kita semua untuk menyampaikan pada dunia bahwa kita masih punya orang-orang cerdas yang selalu siap menjadikan republik ini hebat di mata dunia. Semua ini sudah terjadi, bak kata pepatah nasi sudah menjadi bubur. Saat ini bukanlah waktunya membesarkan masalah yang ada namun kewajiban kita semua untuk ikut serta dalam mengupayakan mengharamkan tumbuhnya mental-mental palsu bagi generasi yang akan datang. Tidak memandang apa pun status sosial dan jabatan, berbuat kebaikan untuk orang banyak adalah sebuah tanggung jawab moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (M Yusuf // inspirasi malam)
Sunday, May 24, 2015
RAMAI - RAMAI KRITIK PEMERINTAH
Enam (6) bulan lebih pemerintahan era Jokowi - JK sudah berjalan. Strategi dan kerja konon katanya sudah dilaksanakan semaksimal mungkin. Bahkan gerakan2 perubahan untuk Indonesia lebih baik sudah mulai di implementasikan oleh para menteri yang mendapat kepercayaan membantu presiden dalam mengemban amanah rakyat. Meskipun issue reshuffle kabinet menjadi trending topic akhir - akhir ini mereka para menteri mengkalim sudah berupaya bekerja semaksimal mungkin sampai detik ini. Namun sayangya hasil survey menunjukkan bahwa tingkat kepuasan masyarakat masih rendah. Sukses atau tidaknya tergantung penilaian kita masing - masing. Walaupun masih banyak yang mengklaim di umur 6 bulan belum berhak untuk melakukan penilaian namun itu sah - sah saja selama tidak melanggar nilai - nilai demokrasi.
Perjalan pemerintahan ini tentunya banyak kritik dan saran dan tidak lupa juga apreseasi dari berbagai pihak dengan berbagai kepentingan. Terlepas dari itu semua penulis pada kesempatan ini sedikit ingin membahas terkait berbagai kritikan di akhir - akhir ini yang turut mewarnai perjalanan pemerintahan era Jokowi JK. Tepatnya momentum Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei Tahun 2015 adalah salah satu puncak dari berbagai kalangan ramai-ramai mengkritik pemerintah. Baik dari tokoh - tokoh politik, akademisi, LSM dan tidak kalah pentingnya mahasiswa dengan berbagai aksi diseluruh Indonesia. Semua ini masih wajar dalam negara Demokrasi selama kebebasan ini dapat dipertanggungjawabkan dan tetap dengan nilai - nilai luhur bangsa Indonesia.
Ada benang merah yang dapat kita ambil dari berbagai pristiwa yang telah terjadi tersebut. Karena pada hakikatnya kritik dan saran dari rakyat adalah menunjukkan bahwa budaya politik bangsa ini semakin membaik. Artinya masyarakat mulai menyadari bahwa pengawasan dari masyarakat selaku pemegang kedaulatan tertinggi di Republik ini sangat penting untuk dilakukan guna berkontribusi dalam memberikan ide dan gagasan cemerlang dalam rangka membangun NKRI.
Ketika hampir semua elemen mengkritik pemerintah, ada pertanyaan besar di benak kita semua. Apakah kritikan ini murni se-objektif mungkin dilakukan atau atas dasar kepentingan tertentu. Terlepas dari itu semua dapat kita pahami bahwa ketika semua pihak gencar melaksanakan kritikan menunjukkan salah satu bukti ketidaknyamanan masyarakat terhadap keadaan yang ada. Ketidaknyamanan ini dapat diartikan sebagai implikasi dari berbagai kebijakan yang dibuat oleh pemerintah baik bidang ekonomi, sosial, penegakan hukum dan lain sebagainya. Kondisi ini tidak bisa dipandang hal yang kecil, namun sebaliknya pemerintah sudah semestinya untuk mencari solusi dan terus mengevaluasi berbagai kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada masyarakat. Bukan hal yang mustahil jika hal kecil ini menimbulkan gejolak yang mungkin lebih besar.
Sebagai warga negara yang baik yang sadar akan pentingnya membangun negeri, sudah sepantasnya kita menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Artinya ketika secara objektif pemerintah ini salah maka lakukan kritik dan saran yang bersifat membangun, dan sebaliknya jika pemerintahan ini berjalan baik maka apreseasi perlu untuk disampaikan. (M. Yusuf)