efek daun

Wednesday, January 28, 2015

MASA BULAN MADU BERSAMA JOKOWI SUDAH BERAKHIR

Mendengar istilah “Bulan Madu” yang terpikirkan di benak kita adalah masa-masa indah yang banyak didambakan orang atau pasangan kekasih yang baru melangsungkan pernikahan alias pengantin baru. Namun penulis pada kesempatan ini tidak akan mengupas hal tersebut, yang dimaksud bulan madu disini adalah 100 hari masa kepemimpinan Jokowi-Jk. Ya, bulan madu memang istilah yang tepat untuk presiden yang baru menunjukkan janji-janji kampanye yang selalu ditunggu-tunggu rakyat.

Perlu kita sedikit melihat kebelakang bagaimana euforia pada saat pelantikan Jokowi-Jk tepatnya pada tanggal 20 Oktober 2014 yang lalu antusiasme masyarakat khususnya pendukung Jokowi-Jk rela berpanas-panasan demi memberi dukungan dan menaruh harapan kepada sang pemimpin yang sedang menaiki kereta kencana. Semangat euforia ini diperkuat dengan semangat perubahan yang diformulasikan dalam Nawa Cita 9 agenda Pokok pemerintah Jokowi-Jk yang salah satunya adalah mengembalikan jati diri Indonesia sebagai poros kemaritiman, hal ini dapat dilihat dengan di bentuknya kementerian koordinator Bidang Kemaritiman yang merupakan kementerian baru dalam sejarah Pemerintah Indonesia. Maka memang pantas kalau saat-saat itu adalah waktu yang tepat disebut sebagai waktu berbulan madu masyarakat bersama Presiden baru. Semuanya terasa indah.  Selogan “Kerja, Kerja, Kerja” adalah hal yang turut memberi semangat disetiap kementerian untuk terus bekerja.
Detik jam terus berlalu, hari-hari sudah dilalui dan tidak terasa 100 hari sudah era kepemimpinan Jokowi-Jk menakhodai Republik yang multikultural ini. Semua ingin berbicara, semua ingin menilai dan semua ingin menyampaikan saran. Ya, sah-sah saja selama Republik ini masih menganut asas Demokrasi Pancasila. 100 hari kempemimpinan Jokowi-Jk mau dinilai berhasil, biasa-biasa saja ataupun gagal itu tergantung perspektif orang yang memberi penilaian. Penulis tidak akan secara langsung memberi penilaian terhadap 100 hari kerja Jokowi-Jk, namun penulis akan sedikit merangkum kembali hal-hal penting yang sudah terjadi selama 100 hari kerja pemerintahan Jokowi-Jk, sehingga semua yang membaca dapat menilai sendiri apakah 100 hari kerja dapat dikategorikan berhasil atau sebaliknya.

Pertama, penulis akan memulai dengan focus pada program pemantapan Poros Kemaritiman yang turut digadang-gadangkan dalam program Visi Misi Jokowi-Jk. Kalau kita lihat secara objektif, program ini belumlah maksimal bahkan Kementrian koordinator Kemaritiman dalam 100 hari ini hanyalah terfokus pada pembenahan struktural organisasi alias disibukkan dengan sistem sendiri, meskipun patut kita apreseasi kinerja Menteri Susi Puji Astuti yang berani memberikan gebrakan terhadap Ilegal Fishing yang terjadi di perairan Indonesia. Namun itu barulah sebagian kecil karena kita ketahui kementerian dibawah Bidang Koordinator Kemaritiman ada terdapat empat kementerian yang gebrakannya masih ditunggu masyarakat.

Kedua, Kebijakan Jokowi dalam hal pengangkatan Jaksa Agung yaitu HM. Prasetyo, banyak menuai protes dari masyarakat. Karena HM. Prasetyo adalah mantan politisi Nasdem sedangkan Jaksa Agung yang diharapkan hanya di isi oleh orang-orang yang benar-benar independen. Masyarakat tidak dapat berbuat apa-apa karena mungkin Nasdem sebagai Partai Koalisi KIH mempunyai hak untuk posisi penting tersebut. Di lain sisi apreseasi patut kita sampaikan ketika dibawah kendali HM Prasetyo Indonesia telah menginstruksikan eksekusi mati terpidana Narkoba sesuai UU, sehingga kekhawatiran publik akan sosok HM Prasetyo pun mulai berkurang bahkan sedikit redam.

Ketiga, Keributan sosial dimasyarakat tidak dapat diredam ketika Jokowi mengambil langkah mencabut subsidi BBM yang kemudian berimbas pada kenaikan harga BBM ditengah-tengah turunyya harga BBM dunia dan susahnya kehidupan masyarakat. Betapa tidaknya dengan dinaikkannya harga BBM tersebut harga kebutuhan masyarakat pun ikut melambung tinggi. Aksi demonstrasi terjadi dimana-mana menuntut Jokowi meninjau kembali atas kebijaknnya menaikkan harga BBM. Meskipun dengan dalih untuk memeperbaiki infrastruktur se Nusantara, kepercayaan masyarakat pada saat itu mulai turun meskipun Presdien kembali menurunkan harga BBM sesuai dengan harga minayak dunia, namun disayangkan harga barang dan transportasi dibeberapa kota belum menyesuaikan.

Terakhir yang mungkin sangat panas pada saat ini yaitu pereseteruan KPK Vs POLRI. Kita melihat dalam pola kepemimpinan Jokowi-JK begitu disayangkan terhadap kebijakan yang berakhir pada perseteruan lembaga penegak hukum yaitu POLRI dan KPK. Tidak dapat dipungkiri bahwa awalnya perseteruan ini adalah berawal ketika Jokowi menunjuk BG sebagai Calon tunggal Kapolri, yang pada dasarnya BG telah mendapatkan tanda merah dari KPK setelah menganalisa laporan PPATK. Masyarakat pun bertanya, ada apa Presiden Jokowi tetap bersikeras menunjuk BG sebagai Calon Kapolri Tunggal dan juga terkesan mendadak? Meskipun sebenarnya masa pensiun Jendaral Sutarman belumlah berakhir. Apakah mungkin karena BG merupakan mantan orang dekat Megawati, tapi kita tidak dapat mengatakan apa-apa akan hal ini (penulis tidak ingin beranda-andai).


Apapun alasannya, sebagai Warganegara yang baik kita tetap harus mendukung Pemerintahan Jokowi-Jk. Ini baru 100 hari, masih panjang waktu pemerintah untuk bekerja. Ini semua cukup untuk croscect kebelakang, mudah-mudahan seiring berjalannya waktu itu semua dapat diwujudkan menuju Indonesia Sejahtera. Sekali lagi Penulis ingin katakan bahwa Masa Bulan Madu Bersama Jokowi sudah Berakhir, saatnya benar-benar untuk bekerja. Pemerintah bekerja, masyarakatpun bekerja Insyaallah Indonesia Sejahtera J. (M. Yusuf)
Comments
0 Comments

No comments :

Post a Comment

Read more: http://www.caraseoblogger.com/2013/11/cara-menambahkan-animasi-burung-twitter.html#ixzz3GMxJQ2Bm