Mendengar
istilah “Bulan Madu” yang terpikirkan di benak kita adalah masa-masa indah yang
banyak didambakan orang atau pasangan kekasih yang baru melangsungkan
pernikahan alias pengantin baru. Namun penulis pada kesempatan ini tidak akan
mengupas hal tersebut, yang dimaksud bulan madu disini adalah 100 hari masa
kepemimpinan Jokowi-Jk. Ya, bulan madu memang istilah yang tepat untuk presiden
yang baru menunjukkan janji-janji kampanye yang selalu ditunggu-tunggu rakyat.
Perlu kita sedikit melihat kebelakang
bagaimana euforia pada saat pelantikan Jokowi-Jk tepatnya pada tanggal 20
Oktober 2014 yang lalu antusiasme masyarakat khususnya pendukung Jokowi-Jk rela
berpanas-panasan demi memberi dukungan dan menaruh harapan kepada sang pemimpin
yang sedang menaiki kereta kencana. Semangat euforia ini diperkuat dengan
semangat perubahan yang diformulasikan dalam Nawa Cita 9 agenda Pokok
pemerintah Jokowi-Jk yang salah satunya adalah mengembalikan jati diri
Indonesia sebagai poros kemaritiman, hal ini dapat dilihat dengan di bentuknya
kementerian koordinator Bidang Kemaritiman yang merupakan kementerian baru
dalam sejarah Pemerintah Indonesia. Maka memang pantas kalau saat-saat itu
adalah waktu yang tepat disebut sebagai waktu berbulan madu masyarakat bersama
Presiden baru. Semuanya terasa indah. Selogan
“Kerja, Kerja, Kerja” adalah hal yang turut memberi semangat disetiap
kementerian untuk terus bekerja.
Detik jam terus berlalu,
hari-hari sudah dilalui dan tidak terasa 100 hari sudah era kepemimpinan
Jokowi-Jk menakhodai Republik yang multikultural ini. Semua ingin berbicara,
semua ingin menilai dan semua ingin menyampaikan saran. Ya, sah-sah saja selama
Republik ini masih menganut asas Demokrasi Pancasila. 100 hari kempemimpinan
Jokowi-Jk mau dinilai berhasil, biasa-biasa saja ataupun gagal itu tergantung
perspektif orang yang memberi penilaian. Penulis tidak akan secara langsung memberi
penilaian terhadap 100 hari kerja Jokowi-Jk, namun penulis akan sedikit
merangkum kembali hal-hal penting yang sudah terjadi selama 100 hari kerja
pemerintahan Jokowi-Jk, sehingga semua yang membaca dapat menilai sendiri
apakah 100 hari kerja dapat dikategorikan berhasil atau sebaliknya.
Pertama,
penulis akan memulai dengan focus pada program pemantapan Poros Kemaritiman yang
turut digadang-gadangkan dalam program Visi Misi Jokowi-Jk. Kalau kita lihat
secara objektif, program ini belumlah maksimal bahkan Kementrian koordinator Kemaritiman
dalam 100 hari ini hanyalah terfokus pada pembenahan struktural organisasi
alias disibukkan dengan sistem sendiri, meskipun patut kita apreseasi kinerja
Menteri Susi Puji Astuti yang berani memberikan gebrakan terhadap Ilegal Fishing yang terjadi di perairan
Indonesia. Namun itu barulah sebagian kecil karena kita ketahui kementerian
dibawah Bidang Koordinator Kemaritiman ada terdapat empat kementerian yang
gebrakannya masih ditunggu masyarakat.
Kedua,
Kebijakan Jokowi dalam hal pengangkatan Jaksa Agung yaitu HM. Prasetyo, banyak
menuai protes dari masyarakat. Karena HM. Prasetyo adalah mantan politisi
Nasdem sedangkan Jaksa Agung yang diharapkan hanya di isi oleh
orang-orang yang benar-benar independen. Masyarakat tidak dapat berbuat apa-apa
karena mungkin Nasdem sebagai Partai Koalisi KIH mempunyai hak untuk posisi
penting tersebut. Di lain sisi apreseasi patut kita sampaikan ketika dibawah
kendali HM Prasetyo Indonesia telah menginstruksikan eksekusi mati terpidana
Narkoba sesuai UU, sehingga kekhawatiran publik akan sosok HM Prasetyo pun mulai
berkurang bahkan sedikit redam.
Ketiga,
Keributan sosial dimasyarakat tidak dapat diredam ketika Jokowi mengambil
langkah mencabut subsidi BBM yang kemudian berimbas pada kenaikan harga BBM
ditengah-tengah turunyya harga BBM dunia dan susahnya kehidupan masyarakat.
Betapa tidaknya dengan dinaikkannya harga BBM tersebut harga kebutuhan
masyarakat pun ikut melambung tinggi. Aksi demonstrasi terjadi dimana-mana
menuntut Jokowi meninjau kembali atas kebijaknnya menaikkan harga BBM. Meskipun
dengan dalih untuk memeperbaiki infrastruktur se Nusantara, kepercayaan
masyarakat pada saat itu mulai turun meskipun Presdien kembali menurunkan harga
BBM sesuai dengan harga minayak dunia, namun disayangkan harga barang dan
transportasi dibeberapa kota belum menyesuaikan.
Terakhir
yang mungkin sangat panas pada saat ini yaitu pereseteruan KPK Vs POLRI. Kita
melihat dalam pola kepemimpinan Jokowi-JK begitu disayangkan terhadap kebijakan
yang berakhir pada perseteruan lembaga penegak hukum yaitu POLRI dan KPK. Tidak
dapat dipungkiri bahwa awalnya perseteruan ini adalah berawal ketika Jokowi
menunjuk BG sebagai Calon tunggal Kapolri, yang pada dasarnya BG telah
mendapatkan tanda merah dari KPK setelah menganalisa laporan PPATK. Masyarakat
pun bertanya, ada apa Presiden Jokowi tetap bersikeras menunjuk BG sebagai
Calon Kapolri Tunggal dan juga terkesan mendadak? Meskipun sebenarnya masa pensiun
Jendaral Sutarman belumlah berakhir. Apakah mungkin karena BG merupakan mantan
orang dekat Megawati, tapi kita tidak dapat mengatakan apa-apa akan hal ini (penulis
tidak ingin beranda-andai).
Apapun alasannya, sebagai
Warganegara yang baik kita tetap harus mendukung Pemerintahan Jokowi-Jk. Ini
baru 100 hari, masih panjang waktu pemerintah untuk bekerja. Ini semua cukup
untuk croscect kebelakang, mudah-mudahan seiring berjalannya waktu itu semua
dapat diwujudkan menuju Indonesia Sejahtera. Sekali lagi Penulis ingin katakan bahwa
Masa Bulan Madu Bersama Jokowi sudah Berakhir, saatnya benar-benar untuk
bekerja. Pemerintah bekerja, masyarakatpun bekerja Insyaallah Indonesia
Sejahtera J. (M. Yusuf)