Akhir-akhir ini kita semua dikejutkan dengan berbagai pemberitaan di media massa terkait hal-hal yang palsu. Mulai dari jual beli ijazah atau gelar oleh perguruan tinggi odong-odong (katanya), praktek dokter kecantikan palsu, maraknya peredaran uang palsu dan bahkan tidak kalah hebohnya terkait dugaan beras plastik yang beredar dimasyarakat alias beras palsu.
Semuanya membuat masyarakat di republik ini khawatir dikarenakan ini semua seolah-olah mengindikasikan bahwa Indonesia saat ini sedang dalam keadaan serba palsu. Penulis sengaja mengambil judul "
NEGERI INI BUKAN REPUBLIK PALSU" pada dasarnya adalah untuk mensugestikan pada kita semua bahwa apa yang telah terjadi adalah hal yang sangat memprihatinkan terlebih image Indonesia di kancah Internasional dan patut untuk diperhatikan bersama. Padahal ini semua hanyalah perbuatan orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Ini bukan suatu pembenaran semata, namun inilah kebenaran yang sesungguhnya bahwa apa yang terjadi saat ini adalah akibat ulah mental palsu. Ya, benar mental palsu oknum yang tidak siap menghadapi kenyataan, mental palsu oknum yang haus akan kekayaan, yang tidak pernah memikirkan bahwa kebobrokan yang mereka lakukan berdampak besar terhadap kenyamanan masyarakat banyak di republik ini. Cukuplah permasalahan sosial, himpitan ekonomi, kemiskinan dan berbagai kesenjangan menjadi tantangan jangan ditambah lagi dengan permasalahan-permasalahan yang tidak penting. Kasihan bangsa ini yang setiap saatnya harus memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya dipikirkan. Cukuplah sejarah masa lalu memberi cerita pahit yang sulit untuk dilupakan . Saatnya kita bangkit dari keterpurukan menuju bangsa yang bermartabat.
Kembali pada topik pembicaraan, andai saja mereka-mereka yang berbuat tidak menggunakan mental palsu, maka sudah dapat dipastikan hal-hal di atas tidak akan pernah terjadi. Jadi dapat disimpulkan bahwa benar Republik ini bukanlah republik palsu, namun karena ulah mereka-mereka yang bermental palsulah mengindikasikan solah-olah ini bangsa palsu. Kewajiban kita semua untuk menyampaikan pada dunia bahwa kita masih punya orang-orang cerdas yang selalu siap menjadikan republik ini hebat di mata dunia. Semua ini sudah terjadi, bak kata pepatah nasi sudah menjadi bubur. Saat ini bukanlah waktunya membesarkan masalah yang ada namun kewajiban kita semua untuk ikut serta dalam mengupayakan mengharamkan tumbuhnya mental-mental palsu bagi generasi yang akan datang. Tidak memandang apa pun status sosial dan jabatan, berbuat kebaikan untuk orang banyak adalah sebuah tanggung jawab moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (M Yusuf // inspirasi malam)